17 May 2008

Kunjungan Ke Jogja-Sragen (Part 2)

Setelah di UGM, maka kunjungan selanjutnya adalah Kabupaten Sragen. Kenapa ke Sragen?. Sragen adalah salah satu kabupaten yang sudah terkenal dengan praktik-praktik terbaiknya (best practices) dalam pengelolaan pemerintahan daerah. Kabupaten Sragen yang awalnya memiliki kondisi alam yang tidak bersahabat (sebagian besar adalah lahan kering) mampu meningkatkan PAD nya hingga 1000% dalam 7 tahun. Kabupaten Sragen juga menjadi salah satu contoh sukses dalam pengembangan sistem administrasi yang menggunakan teknologi komunikasi dan informasi dalam berbagai aktivitas pemerintahannya. Kabupaten ini juga memiliki komitmen yang tinggi dalam pengembangan SDM aparaturnya, contohnya adalah syarat penguasaan TOEFL skor 500 bagi pejabat yang hendak naik pangkat serta penguasaan komputer yang merupakan kewajiban bagi semua aparatur menggambarkan komitmen untuk meningkatkan nilai kompetitif di antara SDM aparatur pada daerah lainnya.


Kunci suksesnya adalah kepemimpinan (leadership). Untuk memulai sebuah perubahan tantangan yang dihadapi sangat besar, penolakan, penentangan yang dihadapi dapat menjadi gangguan yang serius dalam sebuah kepemimpinan. Namun gaya kepemimpinan dan karakter yang dimiliki oleh seorang pemimpin dalam mengatasi gangguan dan hambatan tersebut dapat menjadi kunci sukses bagi sebuah inovasi. Hal ini terbukti pada Kabupaten Sragen, Bapak Untung Wiyono selaku Bupati Sragen sempat mengatakan hal tersebut, beliau menceritakan tantangan yang besar dari banyak pihak saat dirinya hendak melakukan berbagai inisiatif perubahan. Tantangan dari Pemerintah Pusat melalui departemen-departemennya, dari Legislatif daerah, pengusaha, LSM dan pihak tertentu di daerah. Namun kemauan untuk membangun kepercayaan (trust) di tengah masyarakat daerahnya merupakan strategi awal yang ditempuh agar berbagai inisiatif inovatif lainnya bisa berjalan. Delegasi beberapa kewenangan hingga pada tingkat kecamatan dan kelurahan, memangkas pajak dan retribusi yang memberatkan masyarakat dan membangun birokrasi pelayanan yang lebih responsif dan profesional diwujudkan secara konkret dan konsisten.

Dalam beberapa hal bahkan Kabupaten ini lebih maju dari Pemerintah Pusat. Pengembangan Sistem Informasi Manajemen yang dilakukan terintegrasi dari tingkat instansi pelayanan seperti Kelurahan, Rumah Sakit, Polisi, SPBU dan lainnya berjalan dengan baik sehingga keputusan-keputusan adminsitratif dalam dilakukan dengan efisien. Bahkan selanjutnya, pak Bupati berencana untuk mengembangkan Sistem Informasi Kependudukan yang mengintegrasi data penduduk pada Kabupaten ini dalam satu database, sehingga kebutuhan administrasi bagi masing-masing penduduk dapat terpantau secara efektif dan efisien. Pengembangan juga dilakukan dalam fasilitasi kebutuhan komunikasi aparatur PNS pemdanya dengan menyediakan saluran komunikasi gratis yang dimiliki sendiri oleh Pemkab. Jadi Pegawai setempat tidak perlu mengeluarkan uang untuk berkomunikasi di dalam wilayah Kabupaten tersebut.


Dengan berpijak pada “ Rakyat Makmur, PNS Sejahtera”, menjadikan aparatur pemerintah daerah setempat terpacu kinerjanya dalam melayani masyarakat. Mekanisme kontrol yang dikembangkan oleh Pak Bupati menjadikan PNS lebih disiplin dalam bekerja namun tetap sebanding dengan insentif reward yang diberikan kepada masing-masing aparatur. Bayangkan saja dengan sistem reward ini seorang PNS dokter pada sebuah rumah sakit daerah dapat memiliki pendapatan hingga 10 juta sebulan, meski memang harus disertai dengan kinerja yang baik. Jadi, maukah daerah lain mencontoh Sragen ?.


BDL/ 16-05-2008

2 comments:

abah oryza said...

wah sragen bisa jadi percontohan, pelaskanaan untuk di lampung kira2 apa bos?

soemandjaja said...

di lampung?, hmmm.. kota bandar lampung baru punya badan pelayanan satu pintu, meski belum keliatan kinerjanya, metro bahkan lebih maju dalam pemanfaatan IT dalam e-gov nya tapi belum maksimal.. yah.. kita liat perkembangannya nanti.. hehe..