08 October 2008

Laskar Pelangi dan Moralitas Pendidikan

Dimuat di SKH Radar Lampung, 5 Oktober 2008


Laskar Pelangi, sebuah penggambaran realita pendidikan Indonesia yang dituangkan ke dalam sebuah novel inspiratif karya Andrea Hirata yang dicetak ulang sebanyak 17 kali dan terjual 200 ribu copy, menjadi best seller di Indonesia, Malaysia, Singapura, bahkan laris di Eropa. Kekuatan cerita ini ada pada penggambaran realita dan inspirasi yang terjabarkan secara cerdas. Kondisi pendidikan yang digambarkan dengan setting Belitong, seperti di dalam novel tersebut adalah realita yang masih sering ditemui pada daerah di wilayah Indonesia hingga saat ini. Kemerdekaan yang berusia 62 tahun ternyata masih menyisakan belenggu ketidakmampuan untuk menikmati pendidikan secara layak bagi sebagian anak-anak di daerah tersebut. Ketiadaan atau ketidaklayakan menjadi bentuk apatisme dan ketiadaan motivasi untuk meningkatkan kemampuan diri menjadi lebih baik agar mampu menjadi peubah dalam lingkungan sosialnya. Sehingga, masyarakat yang demikian akhirnya terjebak dalam ketidakmampuan dan terperangkap dalam stagnansi kondisi sosial. Ide yang hendak disimpulkan dalam cerita tersebut, bahwa untuk keluar dari kondisi ketidakmampuan solusinya hanya satu, yaitu kekuatan moral. Kekuatan moral yang dihasilkan dari pendobrakan atas kepasrahan kondisi menjadi kunci bagi setiap individu untuk beranjak dari ketidakmampuan. Moralitas yang kuat dan konsisten dalam pendidikan adalah investasi utama yang sangat berharga bagi semua individu.

Ujung tombak yang paling penting dalam praktik pendidikan ada pada pelaku pendidikan tersebut, yaitu pendidik dan siswa didik. Karenanya kedua elemen inilah yang memainkan peran kunci dalam pencapaian nilai-nilai pendidikan melalui interaksi pendidikan. Dua orang guru dalam cerita tersebut adalah sedikit sosok diantara 2,7 juta guru di Indonesia yang memiliki variasi latar pengabdian. Sementara 10 orang anak SD tersebut juga merupakan contoh langka diantara 13 juta anak yang terpaksa atau dipaksa tidak sekolah di Indonesia. Sosok yang mengagumkan bila dibandingkan dengan jumlah 10 anak sekolah yang dropout tiap 5 menit. Guru dan siswa dengan kesadaran moral tersebut menjadi kekuatan yang besar di tengah ketidaklayakan kondisi fisik dan materi yang ternyata bukan merupakan faktor teramat penting dalam praktik pendidikan. Inilah yang sebenarnya merupakan paradoks dalam situasi saat ini, yang lebih menuntut kelayakan fisikal dan materiil namun terkadang enggan untuk memberi ruang bagi lebih kuatnya aspek idelogi dan kultur pendidikan yang berkembang secara sadar dan sukarela. Padahal, ketika pendidikan tumbuh dengan kuatnya aspek tersebut maka luar biasa efek yang muncul.

Kekuatan moral dalam pendidikan kini adalah sesuatu yang terfragmentasi demikian ironis. Fragmentasi terhadap aspek ini dalam pendidikan terjadi karena tekanan struktur formal dan kebijakan yang memaknai pendidikan sebagai sesuatu yang mekanistis. Pendidikan dilihat sebagai sebuah tahap-tahap penciptaan manusia dengan skill teknis yang diniscayakan akan siap melaksanakan fungsi-fungsi pasar. Beberapa kebijakan teraktual seperti standarisasi UAN, sertifikasi pendidik dan beberapa kebijakan adopsi sistem pasar pendidikan pada beberapa bagian menghasilkan individu yang tergerak berdasarkan kesadaran mekanistis. Kesadaran ini merupakan bentuk kesadaran yang muncul dikarenakan dorongan motivasi penyelamatan diri (self defense) karena kuatir mengalami kegagalan atau ketertinggalan jika tidak mempersepsikan diri sesuai dengan cara pandang tersebut. Sehingga akhirnya yang terjadi adalah tumbuhnya semangat individu yang berorientasi kuantitatif dan tidak kuat secara kualitas. Murid kemudian menjadi terkuras secara mental dan fisik untuk mengejar angka kelulusan dalam beberapa bidang studi standar ujian atau guru yang melakukan trik dalam melengkapi berkas sertifikasi guna skor minimal kelulusan.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Karena itu pendidikan memiliki dimensi yang luas. Jika memaknai “usaha sadar dan terencana” sebagai ruang lingkup kualitas dari individu maka penyadaran diri merupakan fondasi dari dimensi-dimensi tersebut. Penyadaran moralitas diri untuk mengerti dan memahami tujuan pendidikan ini yang tidak terjabarkan secara baik dalam praktik pendidikan. Pendidikan sebagai sebuah usaha sadar nampak lebih dimaknai sebagai sebuah “usaha penyadaran” yang mengandung makna tekanan untuk mengikuti cara pandang pembuat kebijakan pendidikan. Sementara itu, makna “terencana” tersebut nampak lebih dimengerti sebagai bentuk keikutsertaan secara struktural dalam rencana-rencana dari elit pendidikan. Maka itu, implikasi yang bisa teramati sebagai hasil bentukan dari paradigma yang demikian adalah dangkalnya pengembangan potensi diri dalam berbagai bentuk variasi kecerdasan. Institusi pendidikan kemudian menghasilkan produk pendidikan yang sekedar menjadi bagian dari perputaran pengetahuan dan pengisi pasar. Pendidikan kemudian menjadi sesuatu yang kering dengan nilai-nilai diri, melelahkan dan menjadi sesuatu yang tidak humanis.

Pendidikan merupakan penciptaan hubungan yang humanis, dimana interaksi yang dilakukan sebagai sebuah proses transformasi dilakukan melalui proses yang memfokuskan dirinya kedalam penemuan-penemuan jalan keluar dalam masalah-masalah atau isu-isu yang berhubungan dengan manusia. Manusia adalah pusat dari pendidikan. Mengajarkan anak didik artinya mengajarkan untuk menjadi manusia yang berakal dan berbudi. Pendidikan yang humanis, adalah sebuah pendidikan yang menghargai perbedaan individual. Hal ini tentunya didasarkan pada kenyataan adanya keunikan antar manusia itu sendiri. Menurut para pakar, hal-hal yang terdapat dalam pendidikan yang humanis adalah: (1). Menerima setiap individu apa adanya, lengkap dengan kekurangan dan kelebihannya, (2). Memberi pengalaman sukses sehingga tumbuh kepercayaan diri, (3). Tidak memaksakan kehendak, karena tanpa dipaksa setiap individu akan bergerak untuk memenuhi kebutuhannya, (4). Ukuran keberhasilan tiap anak berbeda-beda, yang diperlukan adalah membantu masing-masing individu sesuai kemampuannya, (5). Mengembangkan toleransi, dorongan semangat, penghargaan serta rasa persahabatan, (6). Memberi kebebasan yang disertai rasa hormat dan tanggung jawab. Dari point-point tersebut, dapat disimpulkan bahwa pendidikan humanis tersebut menempatkan kekuatan moralitas yang dimiliki oleh masing-masing individu yang dimiliki dalam derajat berbeda sebagai fondasi dasarnya.

Akhirnya, paparan tersebut bisa kita bandingkan sendiri dengan keadaan diseputar kita, di sekolah anak-anak atau kampus. Pendidikan ketika menghasilkan individu berakal yang pandai “mengakali”, berbudi dengan bentuk “pura-pura berwajah baik” atau ketika dimaknai dan diterapkan sebagai bentuk kompetisi bebas dimana masing-masing individu tanpa toleransi berkejaran menyelamatkan diri masing-masing dalam pencapaian keseragaman, maka pendidikan hanya menjadi substansi yang dangkal nilai. Pendidikan tidak mampu menjadikan manusia menjadi manusiawi. Kadang saya bertanya, apa kisah laskar pelangi itu benar-benar nyata di negara ini?. Semoga saja. Sehingga kita pun bisa kembali berharap.

*ditulis oleh: Simon Sumanjaya H (Dosen Tetap FISIP Universitas Lampung)

2 comments:

harid said...

mudah-mudahan terbaca dan tersirat dengan baik oleh Presiden & para pejabat yang menontonnya, agar pendidikan Indonesia jadi lebih baik.
Merdeka!

andreas iswinarto said...

Buku dan Film Laskar Pelangi menghentak khalayak, menggugah para guru, menginspirasi jutaan pembaca, menghardik dunia pendidikan di negeri ini. Asrori S. Karni menyebutnya The Phenomenon.

Buku Anak-anak Membangun Kesadaran Kritis barangkali dapat melengkapi gambaran tentang bagaimana anak bila diberikan perlakuan yang tepat (memberikan hati seperti dilakukan bu Muslimah) dan kesempatan untuk berpartisipasi maka anak-anak dapat menjadi subyek/pelaku perubahan sosial yang luar biasa.

Salam hangat dan silah kunjung
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/09/buku-online-gratis-anak-anak-membangun.html