"Komunikasi itu mahal, maka itu jurusan Komunikasi di Universitas kadang lebih mahal dari jurusan yang lain di Universitas."
Demikian seloroh saya pada saat menguraikan pentingnya komunikasi dalam kehidupan kita, sebagai mahluk sosial, ekonomi, politik dan lainnya. Terkadang suatu kejadian besar, katakanlah beberapa peristiwa kerusuhan massa yang sempat terjadi di Kalimantan, Ampera-Jakarta dan terakhir di Bogor menyisipkan persoalan komunikasi sebagai salah satu dari beragam pelatuk masalah. Persepsi yang muncul dari cara dan kultur komunikasi yang berbeda menghasilkan tafsir yang terbiaskan serta mudah untuk menghasilkan kesimpulan yang keliru. Jika sudah sampai pada tahap itu maka potensi masalah sosial tinggal menunggu "siraman bensin" diatasnya.
Tidak hanya dalam konteks yang besar, persoalan komunikasi juga terkadang muncul dalam penyelenggaraan kebijakan pemerintah. Sebut saja masalah tabung gas 3 kilo, atau rencana-rencana kenaikan beberapa barang publik justru menimbulkan tentangan yang keras dan antipati terhadap pemerintah. Pada lingkup ini sebenarnya kebijakan itu merupakan satu paket dengan komunikasi. Jika prinsip kebijakan adalah pelembagaan aspirasi maka komunikasi adalah yang menghantarkannya kepada proses kebijakan di pemerintahan. Demikian juga proses kebijakan merupakan proses komunikasi, ada proses desain kebijakan yang mencakup artikulasi dan agregasi kepentingan banyak pihak, ada juga proses tawar menawar sebagai upaya mencapai win-win solution bagi semua. Terakhir ketika kebijakan itu dikeluarkan untuk dijalankan, ada proses komunikasi yang harus disampaikan serta dikelola secara efektif.
Hal ini yang sebenarnya cukup menggelitik penulis ketika melihat suatu peristiwa penentangan yang apabila ditelusuri maka akan nampak sekali persoalan komunikasi di dalamnya. Pada kasus yang lain ada suatu rencana kegiatan yang diselenggarakan oleh suatu organisasi namun ternyata cenderung nampak "monolog", sehingga cukup berpotensi untuk mengalami situasi berlawanan seperti yang diharapkannya. Suatu organisasi perlu kenal, bahkan harus kenal dan paham tentang komunikasi ini, karena tidak ada suatu entitas yang bisa hidup sendiri ataupun yang memaksakan kepentingannya sendiri. Demikian juga suatu rencana yang sebaik apapun tujuannya namun jika tidak terkomunikasikan dengan baik maka bisa menghasilkan pengabaian atau bahkan penolakan dari pihak lain.
Secara sederhana sangat sering kita lihat betapa perusahaan besar berinvestasi yang cukup mahal untuk para humas atau profesi2 yang bersinggungan dengan komunikasi ini. Para motivator dengan jualan kemampuan komunikasi yang teruji bisa dibayar dengan sangat mahal, padahal isinya sudah sering kita dengar. Akhirnya, penulis ingin mengatakan jika komunikasi itu mahal karena implikasi yang bisa diakibatkannya bila tidak terkelola dengan baik. Maka berkomunikasilah secara baik dan bijak.
Showing posts with label komunikasi. Show all posts
Showing posts with label komunikasi. Show all posts
05 October 2010
14 February 2009
Sensasionalitas Iklan Politik
Beberapa hari yang lalu ada email yang masuk dari seorang penyeruit, intinya sahabat itu menyampaikan ada seorang Caleg yang hendak memasang iklan di web ini (seruit.com), dan komentar pun bersambutan. Ada yang setuju, yang tidak setuju, dan yang setuju dengan memberikan syarat. Wajar jika ada kekhawatiran tentang posisi dan keberpihakan organisasi (walau seruit belum bisa dibilang sebagai organisasi yg punya struktur). Hingga sampai kini belum juga didapat keputusan akhir. Pada saat yang sama media juga mengekspose tentang iklan politik di media, ada iklan politik yang “menjual agama” pada sebuah kabupaten, ada iklan politik yang menjual anaknya yang ternyata artis, dan yang terakhir adalah iklan politik dari sebuah partai yang disebutkan isinya bersifat provokatif dan seolah menempatkan diri sebagai “pahlawan di tengah kemelut”. Trend politik yang memotong rantai hubungan dengan masyarakat konstituen sebagai konsekuensi dari pemilihan langsung ini. Partai politik menjadi lebih merasa perlu untuk “memasarkan” dirinya kepada publik secara luas. Sah-sah saja jika political marketing yang dilakukan itu demikian ekspansif dan asyik dengan isu yang dibuat oleh masing-masing. Dalam beberapa teori komunikasi, iklan pada prinsipnya berusaha untuk mempengaruhi persepsi dan emosi yang akan menentukan tindakan pihak yang menjadi target iklan tadi. Jadi isi dari iklan tersebut secara langsung akan memberikan efek stimulatif bagi masyarakat. Iklan yang isinya buruk akan mempengaruhi persepsi yang tidak baik dalam masyarakat kepada dirinya, lingkungan dan pihak yang melemparkan iklan tersebut. Demikian juga sebaliknya, iklan yang baik secara stimulatif akan memberikan efek yang baik bagi ketiga kelompok tersebut. Permasalahan yang terjadi kemudian adalah, tren yang lebih terjadi justru munculnya iklan-iklan yang lebih mendahulukan framing effect yang sensasional. Iklan-iklan tersebut nampak seperti lebih berkeinginan untuk melekat dalam memory perseptif pihak yang menjadi target. Efek kejutan yang hendak dimunculkan memang akan melekat di dalam benak secara kuat, namun pola yang seperti ini juga berpotensi merugikan bagi suatu kelompok bahkan pembuat iklan tersebut. Apabila proses logis yang dilakukan oleh target dari iklan tersebut menjadi justru berada dalam posisi yang sebaliknya maka stimulasi yang negatif justru akan lebih berkembang.
Sangat sayang jika iklan yang berbiaya mahal itu hanya menjadi kemubaziran karena tidak memberikan efek yang positif. Acara televisi sudah banyak yang tidak baik, justru ditambah dengan iklan-iklan politik yang tidak mendidik. Hal-hal yang menjadi rumit ini berpotensi untuk lebih menguatkan pengabaian (disobedience) masyarakat untuk melibatkan diri dalam proses-proses benegara. Negara kemudian benar-benar hanya dikendalikan oleh elit yang asyik berkonflik dan memprovokasi satu sama lainnya. Abaikan sajalah iklan-iklan yang buruk. Toh, iklan pada dasarnya lahir dari kompetisi atas pilihan, jadi pilihlah yang produknya benar-benar baik. Salam.
Sangat sayang jika iklan yang berbiaya mahal itu hanya menjadi kemubaziran karena tidak memberikan efek yang positif. Acara televisi sudah banyak yang tidak baik, justru ditambah dengan iklan-iklan politik yang tidak mendidik. Hal-hal yang menjadi rumit ini berpotensi untuk lebih menguatkan pengabaian (disobedience) masyarakat untuk melibatkan diri dalam proses-proses benegara. Negara kemudian benar-benar hanya dikendalikan oleh elit yang asyik berkonflik dan memprovokasi satu sama lainnya. Abaikan sajalah iklan-iklan yang buruk. Toh, iklan pada dasarnya lahir dari kompetisi atas pilihan, jadi pilihlah yang produknya benar-benar baik. Salam.
Subscribe to:
Posts (Atom)