07 August 2008

Pamit

Banyak orang bilang kalau bekerja dalam pekerjaan saya seperti sekarang ini punya gengsi yang tinggi. Sering orang berkata dengan nada yang kagum: “ Wah, masih muda, PNS, dosen lagi..”. Kadang berlanjut pertanyannya: " Sudah nikah belum?, bapak mana sih yang nolak anaknya sama situ?". Ah masa sih segitunya..*mukaku merah, padahal kulitku item ya*. Paling-paling nyengir kuda aja jadinya.. Stop. Kembali ke topik, terus terang awal-awal diangkat dalam profesi ini saya anggap biasa saja, bahkan kalo mau jujur saya tidak pernah terlalu berharap untuk berprofesi seperti ini. Lewat suatu proses yang dramatis dan terasa sebagai anugerah sajalah hingga kemudian saya berprofesi ini. Yang sempat saya syukuri adalah, saya tidak terlalu merasakan masa penantian kerja yang panjang, lulus di akhir September dan kemudian ikut tes, seleksi dan lulus pada Desember 2004. Oh iya, yang saya ingat waktu itu kalau pengumumannya satu hari sebelum Tsunami Aceh yang melegenda dalam sejarah Indonesia. Terus terang, melewati proses itu semua sempat buat saya tidak percaya, semua dilakukan tanpa ada “hal-hal tidak baik dibelakang saya”, tidak ada “pelicin”, surat sakti, becking pejabat atau apapun itu. Yang baru saya sadari dari episode itu adalah rejeki memang kadang datang tidak terduga dan dari arah yang tidak disangka. Bener itu. Niat saat itu mungkin sama seperti anak manusia lain, membuat orang tua bangga. That’s it. Ah, romansa sekali. Berprofesi seperti ini sempat membuat saya sadar kalau guru dan dosen saya dulu penuh perjuangan keras untuk bisa tampil dengan baik bagi murid atau mahasiswanya. Maafin aku pak & bu guru..

Mengajar memang tidak gampang. Seolah kita diharapkan menjadi manusia sempurna yang bisa dan tahu segala hal, tanpa ada cela atau lemah. Mengajar sebenarnya juga proses belajar, dari mengajar selama tiga tahun ini saya jadi sadar kalau setiap orang lahir dengan pribadi, watak, karakter, pikiran dan kebiasaan yang beda. Setiap anak sebenarnya tidak bodoh, hanya saja kadang perbedaan itu tidak dilihat secara jeli, namun justru dianggap aneh dan tidak biasa. Akhirnya, perlahan saya juga coba belajar sedikit tentang psikologi. Dunia yang menarik. Selama tiga tahun itu pula saya sadar kalau mengajar itu tidak bisa dengan pola yang sama, makanya saya termasuk yang acuh untuk membuat SAP, Silabus atau apapun itu yang berbentuk dokumen dan foto copynya. Bukannya malas, tapi saya hanya senang saja kalau setiap semester pembahasan di kelas dengan anak-anak itu berbeda.

Saya juga sadar kalau ternyata mengajar yang lebih puas dan nikmat itu saat ada dalam kelas kecil. Saya senang dengan kelas yang isinya hanya 10-15 orang, rasanya berbeda kalau bisa mengajar secara bersama-sama, maksudnya saya dan anak-anak berada dalam posisi yang berbicara terbuka dan langsung. Mengingat nama mereka satu persatu ternyata memotivasi mereka untuk maju. Improvisasi dengan media film di topik yang lain, atau dengan membahas artikel koran juga memberi kesenangan di kelas. Entah, saya justru merasa enjoy dengan pola yang berbeda seperti itu. Jujur saja, kadang saya tidak sempat membaca buku teks yang banyak itu. Maka kemudian yang lebih senang dilakukan adalah membiarkan anak-anak “menemukan ilmunya sendiri”. Kadang saya cuma membuka sedikit pintu cakrawala mereka dengan logika-logika definisi, logika-logika kasus dengan sejenisnya, tapi justru dengan itu anak-anak jadi nggak teks book mania, mereka punya gairah untuk aktualisasi dengan analisa-analisanya.

Tidak hanya menikmati kekuasaan di kelas, namun di profesi ini saya juga punya banyak kesempatan untuk mengenal dan dikenal orang-orang yang mungkin sangat sulit saya kenal jika hanya bekerja di kantor pemda saja. Menjelajahi daerah-daerah di tanah lampung atau bahkan menjelajah ke negeri orang juga keasyikan tersendiri. Menambah teman, pengalaman dan kesempatan, begitu mungkin kesimpulannya. Saya juga bisa melihat dengan jelas betapa dunia semakin membingungkan, semakin tidak terduga dan semakin liar. Manusia modern mungkin lebih membutuhkan keamanan diri ketimbang sepiring nasi. Manusia kadang bisa jadi serigala buat manusia yang lainnya. Meski pun saya juga tahu jika masih ada manusia yang berhati malaikat.

Di kampus juga saya menjadi manusia biasa, yang sempat masuk dalam perjumpaan indah, harapan, meski kemudian harus kehilangannya, ehem…. Ah, tidak terasa sudah tiga tahun disini. Sudah saatnya saya berhenti sejenak, saatnya saya berangkat selama dua atau tiga tahun ke negeri orang menuntut ilmu. Mengingat adalah keharusan bagi profesi ini untuk berlatar belakang akademik lebih tinggi, meski sebenarnya saya mengganggap pikiran itu tidak bisa diukur dengan gelar akademik yang beragam. Sudah satu tahun saya menunda keberangkatan, satu tahun berlalu dengan beberapa cerita dan kesempatan yang mudah-mudahan tidak saya sesali, terutama satu cerita itu, hehe.... Good Luck !.

Entah apa pun itu, namun banyak teman yang risih dengan pilihan saya untuk belajar di negeri jawa itu. Mereka berharap negeri ras arya, paman sam atau matahari terbitlah tujuan saya. Terima kasih atas pandangan kalian yang tinggi teman-teman, aku tersanjung. Sebenarnya aku pun tidak tahu kenapa saya ingin pergi ke tempat itu. Maju sajalah. Awal September nanti jika Allah menginjinkan berjalan secara lancar maka saya akan berangkat ke Yogyakarta. Doakan ya teman-teman... Semoga dalam dua tahun nanti saya menjadi lebih memiliki apa yang diharap semua orang dan kembali menjalani lagi episode hidup yang lain di tanah Lada ini. Tenang saja, saya akan ikuti berita seruit dan milis lewat warnet-warnet di sana. Sudah.. sudah ah, jangan sedih gitu dong... i will be back kok..

10 comments:

kang gery said...

duh pak dosen, berderai air mata nih .... jadi kehilangan ntar dunk, oiya semoga dapet jodoh di jogja :P

winwin said...

wah asyik tuh pak dosen kuliah di jogja bisa sering-sering ke borobudur n malioboro, sapa tau pas lagi jalan-jalan ketemu jodoh aminn.
sukses ya pak :)

soemandjaja said...

@ gery: cup..cup... jangan nangis dong.. sini papa peluk... uhuk..
@winwin: memangnya kuliah kerjanya jalan-jalan melulu.. hehe..

harid said...

pak!
selamat menempuh perjuangan, jangan lupakan kami (oleh2 ilmu maksudnya hehehehe... )
(daerah mana yg masih bnyk kebun lada? ke tulang bawang & ke lampung barat, kagak ketemu jg.)
Thx sudah menyebut lampung = tanah lada.

soemandjaja said...

@ harid: ow.. kan menurut guru bahasa lampung dulu SMP kalo Lampung itu tanah lada.. hehe.. ikut bu guru aja kita mah.. hehe..

Bem_benk said...

Semoga ilmu yang diperoleh bisa bermanfaat ya pak dosen. Hehehe. Aminnn

Redha Herdianto said...

pamit...emangnya gak pulang apa?

Izzul_Cool said...

Assalaaamu'alaikum...
Ya jadi dosen adalah pilihan hidupmu Pak. Pak jangan lupakan kenangan kita ya. Aku sudah sangat bersukur dengan apa yang aku peroleh selama ini, sebetulnya aku merasa tidak enak kemarin diangkat jadi asisten. Pokoknya selamat jalan kami selalu ingatmu sayang situs admpublik.wordpress.com belum diupdate yang ada juga anak-anak '04 lagi PKL duh kasian amat teman-teman saya.

Di Jogja kami merekomendasikan Anda untuk dilindungi oleh 2 kesatuan militer.

Izzul_Cool said...

Assalaaamu'alaikum...
Ya jadi dosen adalah pilihan hidupmu Pak. Pak jangan lupakan kenangan kita ya. Aku sudah sangat bersukur dengan apa yang aku peroleh selama ini, sebetulnya aku merasa tidak enak kemarin diangkat jadi asisten. Pokoknya selamat jalan kami selalu ingatmu sayang situs admpublik.wordpress.com belum diupdate yang ada juga anak-anak '04 lagi PKL duh kasian amat teman-teman saya.

Di Jogja kami merekomendasikan Anda untuk dilindungi oleh 2 kesatuan militer.

Eka said...

wah pak dosen merantau lagi nih. ya sukses aja deh.... semoga betah di tanah orang. dan tetaplah berjuang!!!!