06 February 2007

Selebritisme Agama Dalam Sinetron

Suatu sore pada tanggal 26 Januari 2007 saya menyaksikan sebuah sinetron yang menggelikan. Jujur saja biasanya jarang sekali saya nonton sinetron. Tapi secara tidak sengaja sore itu sekitar jam 19.00 saya menyaksikan sinetron yang entah secara sadar atau tidak nampak sangat nyiyir terhadap kehidupan seorang ustad. Tayangan tersebut bertajuk ”Ternyata Ustad ..........”. Pada tanggal 26 itu tayangan tersebut sepertinya memparodikan kisah seorang ustad yang bernama AA Jimmy. Dikisahkan bahwa AA Jimmy terbelit oleh masalah poligami (penulis sebenarnya tidak melihat poligami sebagai suatu masalah). Poligami dalam tayangan itu sepertinya memang coba diutarakan sebagai sebuah masalah. Hal ini bisa dilihat dari perubahan-perubahan yang terjadi setelah sang ustad melakukan poligami, dikisahkan bahwa usahanya mengalami kemunduran, permintaan mengisi ceramah menjadi berkurang bahkan dikisahkan juga keluarga sang ustad yang mulai merasa kehilangan sosok kepala keluarga karena harus berpindah-pindah dari istri pertama ke istri kedua.

Minggu depannya saya mencoba melihat tayangan yang sama, tepatnya tanggal 2 Februari 2007 tayangan yang sama mengisahkan tentang Ustad yang memasang tarif atas setiap ceramahnya. Dikisahkan seorang ustad bernama Jufeni dengan gaya ceramahnya yang jenaka terbelit masalah keuangan. Keuangan yang dimaksud bukan karena hutang atau apapun yang berkaitan dengan problem desakan namun karena didorong atas interpretasi terhadap penghargaan atas setiap ceramah yang diberikannya. Interpretasi atas kegiatan ceramahnya inilah yang menimbulkan masalah ketika sang ustad di cap memasang tarif atas ceramahnya.

Terus terang pertama kali saya menonoton tayangan ini agak sdikit membingungkan harus memakai gaya interpretasi seperti apa yang terhadap tayangan itu. Karena sepertinya tayangan ini lebih mengedepankan unsur entertainingnya ketimbang pendidikan atau pencerahan persepsi masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari adanya dua tokoh lelaki kembar yang selalu memberikan reaksi berupa anekdot-anekdot terhadap hal-hal yang menjadi sorotan masyarakat, seperti poligami, materialisme, dan beberapa hal lainnya yang seolah ingin mengatakan bahwa ustad itu tidak perlu dianggap sebagai manusia agung, ustad adalah manusia biasa yang juga bisa khilaf. Ya, dari tajuknya saja ”Ustad Juga Manusia” sebenarnya sudah bisa ditebak maksud dari tayangan ini. Hanya saja jika dicermati dari kutipan-kutipan yang didialogkan oleh tokoh kembar itu cenderung membenturkan prinsip-prinsip dalam agama Islam dengan logika materialis yang dihasilkan oleh interpretasi manusia atas gejala-gejala yang tampak secara kasat mata. Misalnya dalam tayangan tentang poligami, dikatakan bahwa keluarga yang poligami itu cenderung tidak sakinah, apakah pantas sakinahnya sebuah keluarga diukur dari poligami atau monogami, bukankah banyak keluarga yang monogami tapi ternyata harus bercerai lalu menciptakan keluarga yang kacau. Adegan yang lain bahkan lebih membuat saya tertawa sambil berkata ”gila bener”, adegan itu saat asisten sang ustad yang berpoligami itu membandingkan perkawinan dengan nasi bungkus. Poligami diibaratkan dengan memilih nasi basi. Gila bener....

Yang menarik lainnya dari tayangan ini adalah munculnya ustad lain, dalam sosok yang sebenarnya (bukan parodi) yang mencoba memberikan dalih-dalih yang kontra posisi terhadap khilafnya ustad yang jadi sorotan dalam tayangan itu. Jadi bisa dikatakan bahwa kritik atau gambaran yang hendak di munculkan dari tayangan ini terhadap kondisi ”Selebritisme Agama” itu dilakukan dengan mennggangi atau memunculkan ”Seleb-seleb agama” yang lainnya. Bahkan secara halus berusaha untuk membenturkan tafsir-tafsir terhadap prinsip-prinsip agama itu sendiri. Gila bener...

Saya merasa dalam kondisi seperti itu seolah seperti pembalasan dendam yang dilakukan media massa terutama televisi terhadap sikap para ustad yang pernah melakukan kritik terhadap tayangan-tayangan yang disiarkan oleh TV karena cenderung menyiarkan acara-acara yang tidak memberikan pendidikan secara duniawi dan akhirat. Tayangan yang penuh dengan tahayul, kekerasan, seks dan debat moral lainnya. Tanpa bermaksud untuk berburuk sangka akan lebih baik jika kita bersama-sama saling menghargai masing-masing peran, toh televisi terdiri dari manusia-manusia biasa juga.

No comments: