31 December 2007

Laskar Pelangi


Sudah lama sekali saya berniat untuk membaca novel ini, semenjak nonton tayangan di kick andy beberapa bulan yang sudah lama saya jadi penasaran untuk membaca novel yang nampaknya sangat luar biasa ini sehingga dalam jangka waktu dua tahun (2005-2007) sudah dicetak ulang sebanyak 14 kali. Setelah beberapa bulan semenjak tayangan itu, akhirnya dapat juga waktu yang benar-benar bisa di habiskan untuk seharian membaca buku, di libur akhir tahun 2007.

Membaca kutipan pernyataan dari para tokoh yang menyanjung novel ini membuat saya jadi sangat bergairah mencicipinya. Bab demi bab saya jelajahi dengan nikmatnya,ya nikmat karena gaya penceritaan Andrea Hirata (sang pengarang) luar biasa “gurihnya”. Saya yang biasanya bisa menebak isi cerita hanya dari judulnya, perlahan-lahan justru terkagum-kagum dengan jalan cerita yang berdenyut-denyut itu. Mencampurkan setting sosial yang realis (masyarakat Belitong di antara PN Timah) dengan pola-pola golongan sosial yang memang harus diakui hidup di masyarakat kita dengan simbol-simbol inspirasi yang di kembangkan lewat karakter dan kelebihan yang dimiliki oleh 10 orang siswa dari sebuah sekolah Muhamadiyah yang nyaris ditutup karena muridnya tidak memenuhi kuota minimal.

Simbol-simbol inspirasi itu hidup melalui guru-guru mereka, Bu Mus yang disebutnya sebagai crinum giganteum yang merubah protes para siswa terhadap kondisi sekolahnya yang seperti gudang kopra menjadi terdiam terpaku ketika ia menunjukkan gambar sel Bung Karno di Bandung yang menjadi tempat lahirnya pemikiran-pemikiran kebangsaan Indonesia. Ada juga Pak Harfan yang kharismatik dengan ajaran filosofis sederhana yang menjadi cahaya terang saat sedang bercerita kepada mereka tentang Perang Badar atau tentang filosofi amal ma`ruf nahi mungkar.

Simbol inspirasi yang lain juga muncul dalam wujud Lintang dan Mahar, dua orang siswa yang berasal dari keluarga kelas pekerja kasar namun memiliki kelebihan yang luar biasa. Seorang anak pengumpul kerang bernama Lintang, melalui tangan Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan intelegensia yang luar biasa kepadanya, kemampuannya yang termasuk highly cognitive complex sehingga angka-angka rumit dalam ilmu matematika dan fisika atau uraian rumit tentang metabolisme makhluk hidup atau terobosan canggih dalam memahami bahasa asing seolah menari dalam pikirannya. Di saat ia sedang asik membaca dan bereksperimen seolah Copernicus dan Lucretius juga nampak sedang duduk disamping Lintang. Atau Mahar yang juga diberikan kecerdasan dalam aspek yang lainnya. Kemampuan seninya yang menggejolak menjadikannya luar biasa dalam semua kategori seni. Bersama dengan siswa yang lainnya mereka menjalani hari bersama sebagai sahabat yang saling mendukung, bersama-sama pula mereka menikmati hobi uniknya menyaksikan pelangi di langit. Jalan hidup pun membawa mereka masing-masing kepada takdirnya yang beragam.

Membaca novel ini membuat saya merinding, sambil berucap “ Subhanallah…”. Ya, novel dengan pesan moral: “pendidikan adalah jalan untuk meningkatkan kualitas hidup, sehingga layak untuk diperjuangkan”, berhasil menggiring pikiranku untuk masuk ke dalam setiap detil narasinya dan berdecak kagum pada setiap akhir bab-nya. Bener-bener motivasi pengantar tahun baru 2008. be inspired..
BDL, 10 hours before 2008.

2 comments:

Redha Herdianto said...

“pendidikan adalah jalan untuk meningkatkan kualitas hidup, sehingga layak untuk diperjuangkan”,

tapi siapa yg bakal memperjuangkan...

bukankah pendidikan hanya utk orang mampu dan lagi tidak sampainya 20% anggran pendidikan...

Setiawan said...

Amazing !!
Tenkyu Mas buat ulasannya. Jadi pengen langsung beli nih. Yah, sekedar menyemangati kalbu biar gak suntuk dibombardir macam-macam tuntutan mengenai pendidikan yang +harus model begini..+

salam kenal kembali..